Sunday, 5 December 2010

I know it I feel it

Datanglah seorang anak laki laki berumur sekitar 6-8 tahun di hadapan seseorang, laki laki itu menghampiri seseorang perempuan cilik yang sedang bermain di depan rumah laki laki itu sendiri. Laki laki itu bingung kenapa di depan rumahnya?? Kenapa dia main sendirian?? Akhirnya laki laki itu menyuarakan diri kepada perempuan yang tadi masih main pasir bangunan di depan rumah laki laki tersebut.

“hai, namamu siapa?? Kok main sendirian??” tanya si anak laki laki tersebut, perempuan cilik yang hampir bisa di bilang sebaya di mata laki laki ini pun terkejut karena laki laki ini menghampirinya dan menanyakan tentang nama dirinya.

“aku sivia, salam kenal. Namamu siapa??” jawab si perempuan cilik, hmm bukan cilik sih karena perempuan ini hampir sama umurnya dengan si anak laki laki yang ada di hadapan perempuan yang bernama sivia ini.

Sivia sivia, laki laki ini bingung mendengar nama anak perempuan ini, dia tidak tahu nama tersebut karena di komplek nya ini tidak ada teman temannya yang bernama sivia.

“sivia?? Aku rio dan ini rumahku, kenapa kamu ada di sini?” tanya rio sambil menunjuk bangunan rumah yang menandakan kalau itu adalah rumah rio.

“owh aku di sini sedang menunggu bunda di dalam rumahmu, bunda lagi mengasih sedikit kue yang di bikinnya untuk ibu kamu sepertinya, kami baru pindah ke rumah baru kami di situ.” ucap sivia sambil menunjukkan rumahnya yang baru ia tempati sehari yang lalu. Akhirnya rio sadar ternyata sivia ini anak baru di komplek ini, pantas saja dia tidak mengenal nama sivia.

“itu rumahmu yang baru?? Berarti rumah kita dekatan donk.” Entah kenapa rio mengucapkan kalimat itu dengan nada gembira, apakah karena dia akan mendapatkan teman barunya ini.

“iya yang itu tu yang atapnya warna merah, yah sepertinya Cuma jalan kakipun sampai di rumahmu ini hehe.” Sivia tertawa kecil menjawab pertanyaan rio tadi, terlihatlah jelas lesung pipi nya. Rio tersenyum melihat anak ini tertawa.

***

“owh 7 tahun yah” ucap rio yang sedang memastikan jawaban sivia, dia sedang menanyakan umur anak ini, dia sedang duduk berdua di taman komplek tersebut yang tidak jauh dari rumah rio maupun sivia.

“kalau kamu?” tanya sivia yang juga penasaran umur rio tersebut. Tapi sepertinya sivia sudah tau kalau umurnya rio dan sivia itu berbeda.

“8 tahun, lebih tua aku 1 tahun hehe.” Jawab rio sambil berdiri dan berjalan ke ayunan yang tidak jauh dari tempat duduk yang ia dan sivia duduki tadi, dan ayunan itu berhadapan dengan tempat duduk itu jadi sekarang mereka saling hadap hadap.

“wah lebih tua setahun yah, hmm aku harus panggil kak rio yah, kata bunda kalau aku punya teman yang lebih tua harus pakai kata ‘kak’ di depan nama.” Sivia menjelaskan apa kata bundanya yang sering mengajari sivia tata krama dan sopan santun dari usia dini.

Rio tersenyum setelah mendengar sivia menjelaskan kenapa dia harus memanggil orang yang lebih tua dengan kata ‘kak’ tapi bagi rio mau dengan kata ‘kak’ dan tidak itu tidak masalah baginya. Dan lagipula Cuma setahun ini beda umurnya, tapi kalau itu yang di ajarkan ibunya sivia jadi rio sih terima saja. “sebenarnya kalau gak pakai ‘kak’ juga gak apa apa kalau sama aku, tapi kalau itu yang di ajarkan bundamu sih, berarti emang harus pakai. tapi kalau suatu saat sivia merasa gak enak dengan kata kak cukup panggil nama rio ajah, tapi itu Cuma berlaku dengan rio. Kalau sama yang lain gak boleh.”

“ayo kita balik kerumah, sepertinya bundamu juga sudah menunggumu di rumah, tapi biasanya mama kalau ada tamu pasti tamunya bakal betah di rumah hehe.” Ucap rio kepada sivia sambil mengulurkan tangannya untuk membantu sivia yang sedang duduk di rerumputan taman itu.

Sivia merasakan bahwa rio ini orang yang suka menghibur, baik, ramah, serta kadang kadang lucu dengan ucapan ucapan lucu khasnya. Sivia menerima uluran tangan rio dan bergandengan tangan sepanjang jalan hingga rumah rio. Sivia merasakan ada kehangatan di situ, entah apa itu sivia tidak tahu. Apakah karena dia masih begitu anak anak dan belum mengerti apa apa tentang kehangatan itu. Tapi apapun itu sivia sangat nyaman berada di samping rio.

Sejak saat itu sivia dan rio sangat akrab, setiap hari sivia bermain dengan rio dan juga sebaliknya, mereka sangat bersenang senang saat sedang bersama, bermain dan lain lainnya.

***

9 tahun kemudian


“Hey!! Ngapain di situ?” suara laki laki itu terdengar sedikit teriak, saat si empunya telinga melirik kebelakang terlihat laki laki itu sedang melambai lambaikan tangannya dari kejauhan.

“hey kemana ajah sih, via, di cariin bundamu tuh.” Ucap laki laki itu saat dia sudah mendapatkan duduk di sebelah sivia, sivia masih diam saja daritadi, entah tau kenapa.

“hey kenapa sih?? Ada apa?? Guru fisikanya galak yah??” tanya laki laki tersebut saat melihat sivia diam saja daritadi, laki laki itu bingung ada apa dengan sivia.

“kak rio, hmm… kak rio tadi kak ify ….hmm tadi itu loh kak… hmm gimana sih yah bingung nih ngomongnya…” ucap sivia terbata bata bingung apa yang akan dia hendak katakan.

“owh yang itu, udah tenang ajah tadi katanya gak apa apa kok… dia tadi emosi ajah kok yang hari ini latihan padus dikit banget, kamu juga kenapa gak latihan?” tanya rio, dia tadi dapat kabar ify sedang emosian di sekolah sebelum ia akan pulang kerumah. Dan masalahnya Cuma itu latihan padus hari ini di batalkan karena hanya beberapa orang, bisa di hitung jarilah Cuma 6 orang sajah.

Ify adalah ketua dari paduan suara di SMA nya rio dan sivia. Ify ini teman satu kelas dari kelas 1 sma hingga sekarang 2 sma.

“tadi aku lagi gak enak badan kak, ya udah gak latihan dulu, dan gak minta izin sama kak ify. Andai saja tadi minta izin pasti kak ify gak marah marah di telepon.” Jawab sivia, dia sadar bahwa ify ini adalah orang yang sangat tegas dan menghargai waktu. Dia juga kagum terhadap sikap ify menjadi leader di paduan suara yang di ikuti sivia.

“owh gitu, tapi sekarang gak kenapa kenapa kan?? Kalau tetap gak enak badan kita pulang ajah, jangan di sini.” Ucap rio perhatian kepada sivia setelah menjelaskan bahwa dia tadi tidak enak badan, rio takut kalau sivia ini sakit nanti. Entah kenapa rio ini sangat perhatian dengan sivia.

Sivia agak aneh juga atas perhatian rio kepadanya, tetapi dia juga senang dapat perhatian dari seorang rio, “udah gak apa apa kok kak, nih buktinya.” Sambil mengangkat kedua tangannya seperti para atlet binaraga atau pun angkat besi.

“hahahahahahha via via, ada ada ajah.” Ledak suara tawa rio, ternyata sivia ini juga sangat gemar memberi lelucon aneh .

“hmm kak rio, menurut kak rio kak ify tuh orangnya kayak apa sih?” entah mengapa sivia menanyakan ini kepada rio, dan mungkin saja pertanyaan ini yang membuat dia berada di taman ini, yang membuat dirinya menyendiri di taman ini, yang membuat dirinya sedikit sakit di sekitar hatinya yang ia sadari sejak 2 tahun yang lalu, ia menyadari bahwa kehangatan itu, menyadari apa artinya, menyadari tentang isi perasaannya, dan ia sekarang pun beranjak remaja dan dewasa pasti sudah menyadari itu.

Rio sejenak diam setelah mendengar pertanyaan sivia kepadanya, dia bingung kenapa sivia menanyakan itu padanya, ada apa dengan pikiran sivia saat ini?? Itu yang membuat terasa aneh saat ini hari ini dan sejak 2 tahun lalu, “hey hey kenapa nanya itu??” setelah hening beberapa saat rio pun bersuara menanyakan balik, tapi sivia tidak menjawabnya, sivia masih menatap rio, matanya itu mengisyaratkan untuk harus menjawab pertanyaannya. “oke oke…” rio mengalah “…. Ify anaknya tegas, menghargai waktu, baik, ramah, pintar, cantik juga, terus….. yah gitulah.” Rio juga bingung mendeskripsikan ify seperti apa orangnya, tapi yah itu sudah mencakupi sifat ify.

“hampir mirip sivia lah kalau di lihat lihat.” Rio mengakhiri kalimatnya dengan ucapan itu. sivia kaget saat setelah mendengar itu, dan tersenyum malu kepadanya, rio pun aneh bin bingung atas sikap sivia seperti yang di pikirkannya. Tapi rio mengetahui itu dia menyadari itu tapi apakah bisa selama itu perasaannya berubah kepadanya, ‘hmm let it flow ajah’ batin rio.

***

“tapi kenapa yo kenapa??” tanya seorang perempuan yang sedang berada di depan rio sejak rio hendak pulang kerumah tetap di tahan oleh perempuan ini dan ingin membicarakan sesuatu.

Rio pun bingung kenapa ia telah menolak pernyataan seseorang perempuan yang sedang berada di depannya, dia tidak tau apa alasannya di menolak perasaaan perempuan ini, dia tidak bisa mencarinya. Tapi apa karena dia, tapi ini belum pasti, dia pun harus mencari alasan tersebut setelah pembicaraan dengan orang yang sedang ada di hadapannya ini. “gw juga gak tau fy kenapa, tapi gw gak bisa terima kamu fy, gw juga bingung kenapa alasannya, tapi ini uda keputusan gw.”

“tapi yo…..” ify teringat sesuatu yang ada di pikirannya “….. oh I see yo, oke kalau gitu gw terima keputusan lu, hmm cari alasan lu kenapa ini jadi keputusan lu terus lakukanlah, gw udah tau alasannya, mungkin lu gak menemukannya tapi I see it yo.
Good luck yo.” Ify langsung beranjak pergi dari hadapan rio

Eh apa maksudnya?? Rio tidak mengerti apa kata kata ify tadi, tapi mungkin ia akan tahu atas kata kata ify tadi. “Ify!! Makasih…” rio berteriak saat ify sudah hampir menghilang di kedua bola matanya, ify mendengarnya terus berbalik dan tersenyum kepada rio mengesankan bahwa ia telah membalas terima kasih rio kepadanya.

Rio saat ini sedang berada di bukit dekat sekolahnya itu, biasanya dia di sini sedang melakukan tidur siangnya ataupun merasakan kedamaian bila pikirannya sedang jenuh. Bukit ini sangat sangat nyaman terdapat pohon pohon cemara yang menjulang serta daunnya yang rimbun sehingga bila duduk di bawahnya pasti sejuk. Rio sedang duduk di bawah salah satu pohon pohon cemara itu, sedang mencari alasan kenapa bisa ia menolak ify yang bisa di bilang hampir mendekati perfect, banyak teman teman rio yang pernah menyatakan perasaannya tapi semuanya di tolak, tapi sangat beruntung rio lah yang di kejarnya tapi mengapa dia menolaknya. Itu yang sedang dari tadi ada di otaknya, apa?? Kenapa?? Siapa yang membuatnya begini??

Tapi rio mengingat dengan seseorang, mungkin dia yang mengubah dirinya ini, ya 9 tahun lalu yang pertama kali ia ketemu dengan orang tersebut, sejak ia bertambah remaja rio emang menganggumi sosoknya ini, ya sivia lah orang tersebut, dia menemukan kehangatan jika dia sedang berada disampingnya, entah sejak kapan itu, mungkin saja sejak pertama kali dia bergandeng tangan, mungkin juga sejak pertama kali ia berangkat ke sekolah bareng, atau saat pertama kali berlibur bersama dengan orang tuanya, atau juga saat dimana dia mengajari pr pr nya sivia, mungkin saja saat pertama kali dia mengajak sivia jalan jalan ke dufan dan mall mall besar di wilayahnya, mungkin saat lagi bersepadaan di kompleknya, rio tidak tahu kapan ia merasakan kehangatan saat di sampingnya, sejak 2 tahun yang lalu pun ia juga merasa ragu atas perasaan terhadap gadis yang satu ini, ia masih menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri, tapi dia baru menyadari 2 tahun yang lalu saat dia menyadari dan mengetahui bahwa gadis itu juga merasakan apa yang ia rasakan sekarang ini, mungkin bisa dengan satu kata apa perasaan yang bercampur aduk itu ‘cinta’ yak mungkin kata itu tepat untuk mereka. Tapi sampai sekarang rio masih belum bisa merubah perasaan sebagai kakak pada gadis itu, dia mempunyai prinsip, lakukanlah seperti aliran sungai, biarkanlah mereka mengalir sendiri biarkanlah hidupnya berjalan seperti halnya aliran sungai tersebut. Rio memejamkan mata dan mengingat ingat wajah sang gadis itu, tepatnya sivia. Tidak bisa di pungkiri wajah itu emang manis dan cantik, dia terlelap setelah mengingat ingat wajah tersebut.

“kak rio… kak rio bangun kak!” panggil seseorang perempuan ‘itu’ hmm apakah ini masih berada di alam mimpi nya rio, kok bisa ada yang tau tempat ini, eh bukan kok bisa ada yang tau rio berada sekarang.

Rio membuka mata perlahan lahan sambil mengucek ucek matanya dan mengedipkan matanya beberapa kali supaya terbiasa saat cahaya mendapatkan dua bola matanya itu,

“si…sivia.” Rio kaget dengan pandangan pertama kali yang ia dapatkan saat matanya sudah terbiasa, kenapa dia bisa disini??

“kamu kok bisa ada disini??” tanya rio heran sekaligus kaget atas kedatangan sivia dan membangunkan rio disini. Dia jadi teringat mengapa ia bisa tertidur disini, itu juga karena gadis ini.

“mama kak rio nanyain ke sivia kok kak rio belum pulang pulang dari tadi, ya udah sivia di suruh nyariin kak rio, jadi sivia disini jemput kak rio pulang.” Sivia menjelaskan secara singkat padat dan jelas, tapi rio pun masih kaget kenapa dia bisa tahu bahwa ini bukit adalah tempat favoritnya, padahal belum ada yang tau, sampai teman dekatnya rio di sekolah pun gak ada yang tau, serta dia tidak mengasih taukan tempat ini ke sivia.

“kok kamu bisa tau kak rio ada di sini?” jedaaaar pertanyaan yang hendak rio tanyakan keluar juga, sivia pun langsung bingung setengah mati serta salah tingkah atas pertanyaan yang telak diberikan rio tadi.

“eh…. Hmmm… itu… hmm… eh..” sivia bingung mau menjawab apa, karena tidak ada yang tau kalau rio sedang berada disini, karena tempat ini sangat di rahasiakan oleh rio sendiri. Sivia susah menjawab pertanyaan rio tadi, dia menunduk kepalanya serasa malu sambil melihat kedua kakinya di tanah berumput itu. Rio pun jadi merasa aneh tapi ia tahu dan merasakan itu.

Keheningan terjadi hampir 3 menit, walau sebentar tapi bagi mereka itu sangat lama sekali dalam percakapan seperti ini. Rio mendesah dan menghembuskan nafas untuk menyakinkan untuk menanyakannya, “sivia, kak rio pengen tanya…..” sivia langsung mendongkakkan kepalanya dan menatap rio dengan heran, apa yang akan ia tanyakan itu.

“….. sivia menganggap kak rio ini sebagai apa?” gledar jedaaar gruduuuk* sivia merasakan kakinya lemas, ada apa dengan rio? Mengapa ia menanyakan itu kepadanya? Apakah perlu sivia mengasih tau bagaimana perasaannya pada rio saat ini, hari ini, atau mungkin 2 tahun yang lalu atau juga 9 tahun yang lalu sejak pertama kali bertemu.

Sivia menghembuskan napasnya, “kak rio apaan sih, ayo kita pulang ajah deh udah mau malam nih!” sivia membiarkan pertanyaan rio tadi. Sivia hendak berjalan untuk menurunin bukit, tetapi rio masih di tempat, “Sivia…” suara rio seperti memaksa untuk menjawab pertanyaan tadi , sivia menghentikan 3 langkahnya barusan dan berbalik, apakah ia perlu mengasih taukannya?? Sivia menghembuskan nafas kembali, sepertinya ia akan mengasih tau kepada rio tentang ini semua.

“sivia sayang kak rio bukan sebagai adik perempuan kepada kakak laki lakinya, tetapi sebagai seorang perempuan kepada laki laki pujaannya.” Kalimat yang bisa dibilang sederhana dan simple ini terucap juga oleh sivia, entah gimana wajahnya saat ini, mungkin merah sekali. Dia pun tidak menatap rio sama sekali saat ia mengucapkannya itu.

Rio pun kaget dan tersenyum setelah mendengar penyataan tersebut, mungkin saat inilah dia harus membalas perasaannya, seperti keputusan dan prinsipnya tadi ‘let it flow’. Rio sudah mengetahuinya sifat sivia yang berubah seketika saat 2 tahun lalu rio pun menyadari perasaan rio sekarang, bukannya sudah lengkap satu sama lainnya?? So this is decision.

“hmm kak rio tau kok udah tau sejak 2 tahun lalu…..” sivia kaget setelah mendengar kalimat itu, benar saja apa yang di ucapkan rio tadi, sivia sadar atas perasaannya 2 tahun yang lalu, begitu naifnya kah sampai rio tau dirinya cinta padanya. “……. Kak rio tau kamu mulai berubah menjadi seperti saat ini saat 2 tahun yang lalu, mungkin kita pun mempunyai perasaan yang sama saat ini….” Apa? Sivia kaget mendengarnya, berarti cintanya pun tidak sebelah tangan. Tapi “…… kak rio baru sadar tadi, saat kak rio menolak pernyataan ify tadi, entah mengapa kak rio menolak sosok gadis yang hampir perfect itu, ify pun berpesan ‘cari alasan lu kenapa ini jadi keputusan lu terus lakukanlah’ tadi, dan benar saja kak rio menemukan alasan yang pasti setelah merenungkannya semua di sini di bawah pohon ini…..” kata rio terhenti sesaat sambil mendongkak ke atas menatap puncak pohon cemara ini. “…… so this is my decision, sivia, would you be my girlfriend?” betapa lemasnya sudah kedua kaki sivia ini setelah mendengar pernyataan rio tadi. Haruskah ia menjawab ‘yes I would’? sepertinya tidak, sivia hanya menganggukkan kepalanya mengisyaratkan bahwa ia menerimanya. Kemudian kedua tangan rio membentang lurus kesamping mengisyaratkan supaya sivia menghampirinya untuk memeluknya, dan siviapun menurut saja, gimana tidak menurut, sudah ada pujaannya di depan matanya itu yang menerimanya.

“makasih yah kak rio….” Ucap sivia yang masih berada di pelukan hangat rio saat ini, inilah yang ia inginkan kehangatan inilah yang ia rasakan setiap berada di sampingnya. “ssstt, just call my name, now.” Kata rio sambil melepaskan pelukannya, sepertinya itu sudah cukup, setiap hari dia juga akan mendapatkannya. “tapi….” Sepertinya sivia ingin menolaknya “daripada aku suruh panggil sayang mau??” ledak tawa sivia keras saat iya mendengar ucapan rio tadi, sivia menganggap bahwa orang pacaran dengan pakai kata ‘sayang’ saat memanggil nama kekasihnya itu terlalu berlebihan, ia tidak suka itu. “oke…. Sayang.” Loh tapi mengapa sivia memanggil rio sayang?? “tenang itu yang pertama dan yang terakhir aku ucapkan.” Rio pun tersenyum dan memeluknya kembali sesaat, “ya udah yuk pulang, pasti bundamu nyariin kamu deh.”

Di lihatnya langit sudah menghitam tanda malam sudah tiba. “rio tahu sivia sekarang sedang mikirin apa?” ucap sivia saat dia akan turun dari puncak bukit sambil bergandengan tangan dengan rio. “hmm apa yah?? Mikirin aku yah?” jawab rio entah dia menebak atau sudah membaca pikiran sivia. “tetot salah, sivia lagi mikirin apa yang di ucapkan kak ify sama kamu,rio.” Rio berpikir, kenapa ia memikirkan kata kata ify yang tadi rio katakan kepada sivia. Tapi rio tau kenapa sivia memikirkan kata kata ify itu,

”hmm aku tau apa yang sedang kau pikirkan atas kata kata ify itu."

No comments:

Post a Comment